Home Hot News Tradisi Ilmiah vs Kebodohan

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini42
mod_vvisit_counterKemarin156
mod_vvisit_counterMinggu ini198
mod_vvisit_counterBulan ini3676
mod_vvisit_counterAll254861
Tradisi Ilmiah vs Kebodohan PDF Print E-mail
Written by heri   
Saturday, 26 March 2011 10:47

Indonesia belum rata memiliki tradisi ilmiah yang kuat. Padahal Indonesia memiliki jumlah umat Islam terbesar di dunia.  Bisa jadi karena tradisi ilmiah Islam belum bisa maksimal, maka masih banyak umat / masyarakat yang terpuruk terpinggirkan atau bahkan terlupakan.

 

Perbedaan kepentingan kecil kadang menimbulkan pemahaman berseberangan dengan golongan akademisi lainnya, yang malah menimbulkan konflik besar. Seharusnya musyawarah, berhujjah dan diskusi  intens yang elegan, berdiri sejajar dalam mencapai keharmonisan lebih layak dikedepankan.  Sehingga tradisi ukhuwah Islamiyah tetap terjaga dan terpelihara dalam  setiap permasalahan. Sekaligus mendidik anak bangsa/generasi muda agar terbiasa dengan forum-forum ilmiah dalam mencapai kemaslahatan. Salah satu syarat kepemimpinan adalah keunggulan dalam mengekspresikan isi kepala ke dalam bahasa lisan melalui diskusi atau melalui kemampuan berpolemik melalui tulisan.

 

Tradisi ilmiah Islam

 

Merujuk tradisi ilmiah Islam yang dikembangkan ulama-ulama para fuqaha telah berupaya merintis kegiatan ilmah Islam dengan penerjemahan karya-karya ilmiah klasik, diskusi keilmuan yang rutin, riset ilmiah, dan penyelenggaraan pendidikan Islam atau yang sesuai dengan Islam.

 

Jadi tradisi ilmiah Islam dengan dua aspek—fisik dan spiritual— harusnya mutlak menjadi pegangan para akademisi pendidikan Islam saat ini.  Dapat dilihat tradisi ilmiah Islam tidak kalah baik dengan tradisi barat saat ini, bahkan dapat dikatakan melebihi. Dari tradisi Islam itu, misalnya berabad-abad silam muncul karya ilmiah as-Syifa yang membahas semua cabang ilmu pengetahuan, logika (terdiri dari: Isagogi, topika, dialektika, qiyas, retorika, sofistika, puitika), matematika ( terdiri dari: aritmatika, geometri, musik, astonomi), fisika (terdiri dari: Bumi dan langit, generasi dan korupsi, mineralogi, botani, zoologi, psikologi, anatomi, kedokteran), dan metafisika (terdiri dari dua buku yang beridi 23 bidang ilmu). Karya ilmiah yang mungkin hanya ada dalam tradisi Islam.

 

Shahih, Dhaif dan Palsu, Menjaga orisinalitas Ilmiah

(Al Hujuraat [49]:6)

Hai orang2 yang beriman jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang menyebabkan kalian menyesal dengan perbuatan itu.”

 

Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: “ Termasuk adab yang pantas diamalkan bagi orang yg berakal. Yakni apabila ada seorang yang fasiq mengabarkan suatu berita agar mengecek berita jangan begitu saja mengambilnya. Sebab yang demikian ini bisa menyebabkan bahaya besar dan menjatuhkan ke dalam dosa. Yang wajib dalam menyikapi berita seorang yang fasiq adalah meneliti dan mencari kejelasan.”

 

Sesuai dengan tradisi ilmiah Islam maka perlu ketelitian, kecerdasan dalam menerima sebuah tulisan, ucapan/berita dan informasi. Dalam ilmu hadist misalnya dalam menetapkan benar tidaknya sebuah hadist, maka ditetapkan kelompok ulama peneliti yang melakukan penyelidikan  kepada para perawi hadits.

 

Caranya dengan mengetahui ke-tsiqah-an atau kelemahan seorang rawi yg secara garis besar terbagi menjadi dua bagian:

 

Pertama: Mereka semasa dengan para perawi tersebut sehingga memungkinkan bagi mereka untuk melakukan pengetesan terhadap para perawi tersebut.

Kedua: apabila mereka tidak semasa dengan perawi yg ingin diketahui keadaan riwayat maka dengan cara sabrul ahaadiits . Jika perawi tersebut banyak meriwayatkan hadits dan jarang terjadi kesalahan dalam riwayat maka dia disifati sebagai seorang hafidz.

 

Jika memiliki sedikit kesalahan dibanding sekian banyak riwayat maka hadits berada di antara tingkatan Shahih hingga Hasan. Jika banyak terjadi kesalahan pada riwayat dan fatal kesalahan hanya saja tidak sampai kepada tingkat ditinggalkan hadits, maka yg demikian derajat Dha’if atau lemah.

 

Karya tulis

Tradisi ilmiah Islam di atas yang mewujud dalam bahasa 'metode ilmiah' , saat ini seharusnya sudah mewabah di semua level masyarakat Indonesia. Sehingga masyarakat tidak gampang terprovokasi  oleh proses 'devide et impera'  yang masih dianut.

 

Sungguhpun setiap jenjang pendidikan dari dasar hingga perguruan tinggi di Indonesia telah menuntut anak didiknya menghasilkan karya tulis. Namun perlu penjelasan hakikat pembuatan karya tulis tersebut, selain kemampuan kognitif dan psikomotor  yang dinilai. Ada aspek yang dicamkan yaitu keberanian mencantumkan nama serta biodata pada sebuah karya, adalah sebagai bentuk penyadaran bahwa menjadi muslim harus menjadi insan yang 'berani berbuat, berani bertanggungjawab." Bukan insan yang gemar "lempar batu sembunyi tangan."

 

Dengan analogi/qiyas dalam ilmu hadist di atas, dengan mencantumkan nama pada sebuah karya adalah alat untuk diteliti apakah karya tersebut Shahih, dhaif, palsu. orisinil, jiplakan atau saduran.  Kalau memang baik, bukan tidak mungkin karya tersebut akan menjadi sumber rujukan, inspirasi bagi penulis/peneliti/pemakai lainya, sehingga ilmu terus berkembang.

QS. Al Israa (17)

36.  “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.

 

Dengan Iman-Ilmu-Amal proses pendidikan akan menuntun para pembimbing untuk selalu cerdas dalam berfikir, berhati-hati dalam berucap/menulis dan istiqamah dalam bertindak. Insya Allah.

 

Menghindarkan dari kebodohan

 

Penjelasan singkat di atas mudah-mudahan membawa kepada perenungan agar lebih banyak umat yang terhindar dari kebodohan. Adapun istilah kebodohan atau bodoh dapat kita simak, saduran dari tulisan di bawah ini :

 

Bodoh,...Penyakit yang Membinasakan

(Penulis : Saad, Purbalingga-Jawa Tengah)

 

Bodoh adalah salah satu penyakit hati yang sangat membahayakan dan sangat mengerikan akibatnya. Akan tetapi sering dan mayoritas penderitanya tidak merasa kalau dirinya sedang terjangkit penyakit berbahaya ini. Dan karena penyakit bodoh inilah muncul penyakit-penyakit hati yang lain seperti iri, dengki, riya, sombong, ujub (membanggakan diri) dan lainnya. Karena kebodohan ini adalah sumber segala penyakit hati dan sumber segala kejahatan.

 

Kebodohan ini penyakit hati yang berbahaya lebih dahsyat dibanding penyakit badan. Karena puncak dari penyakit badan berakhir dengan kematian, adapun penyakit hati akan mengantarkan penderitanya kepada kesengsaraan dan kebinasaan yang kekal. Manusia yang terkena penyakit ini hidupnya hina dan sengsara di dunia maupun di akherat. Allah Taala banyak menyebutkan dalam Al-Quran tentang tercelanya dan hinanya serta balasan dan akibat bagi orang-orang yang bodoh yang tidak mau tahu tentang ilmu agama di dunia dan akherat.

 

Diantaranya Allah menyatakan dalam surat Al-Furqon: 44 "Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar dan memahami ?. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak bahkan lebih sesat jalannya". Di dalam ayat ini, Allah Taala menyerupakan orang-orang bodoh yang tidak mau tahu ilmu agama seperi binatang ternak bahkan lebih sesat dan jelek.

 

Di dalam surat Al-Anfal : 22. Allah juga menyatakan: "Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling jelek di sisi Allah adalah orang yang bisu dan tuli yang tidak mau mengerti apapun (tidak mau mendengar dan memahami kebenaran)". Dalam ayat ini Allah memberitakan bahwa orang-orang bodoh yang tidak mau memahami kebenaran adalah binatang yang paling jelek diantara seluruh binatang-binatang melata seperti keledai, binatang buas, serangga, anjing dan seluruh binatang yang lain.

 

Maka orang-orang bodoh yang tidak mau kebenaran lebih jahat dan lebih jelek dari seluruh binatang. Kemudian Allah Taala juga menyatakan bahwa orang-orang yang bodoh seperti orang-orang yang buta yang tidak bisa melihat sebagaimana dalam surat Ar Rodu : 19. Allah berfirman: "Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sama dengan orang yang buta ?"

 

Dan sungguh Allah Taala banyak mensifati orang-orang yang jahil itu dengan bisu, buta dan tuli. Kemudian keberadaan orang-orang yang jahil terhadap dakwahnya para rosul sejak rosul yang pertama sampai rosul yang terakhir, mereka adalah musuh yang paling berbahaya bahkan musuh para rosul yang sebenarnya. Hingga Musa alaihissalam berlindung kepada Allah agar tidak menjadi orang yang jahil, sebagaimana dalam surat Al-Baqoroh: 67 "Aku berlindung kepada Alloh agar tidak menjadi orang yang jahil".

 

Dan Allah juga memerintahkan kepada nabinya shollallaahu alaihi wassalam untuk berpaling dari orang yang jahil "Dan berpalinglah engkau dari orang-orang yang jahil !"Kemudian Allah Taala juga menyerupakan orang jahil yang tidak menerima dakwah rasul seperti orang yang mati dan telah terkubur, walau jasad mereka hidup. Karena dakwah rasul itu ilmu dan iman. Ilmu dan iman inilah yang menjadikan hati itu hidup, kalau ilmu dan iman tidak terdapat di hati orang maka orang itu menjadi bodoh.

 

Dan orang yang bodoh matilah hatinya. Akibat dari kebodohan inilah maka kehidupan dia di dunia seperti orang buta tidak bisa melihat kebenaran. Siapa yang tidak mengerti kebenaran maka dia sesat dan menjalani hidup ini tanpa arah.Orang yang buta mata hatinya akibat kebodohannya, nanti akan dibangkitkan dalam keadaan buta. Dan tempatnya adalah neraka jahannam. Sebagaimana firman Allah Taala dalam surat Al-Isra: 72 dan 97"Barang siapa di dunia ini buta mata hatinya maka dia di akherat lebih buta dan lebih tersesat dari jalan yang benar" "Dan kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat diseret atas muka mereka di seret dalam keadaan buta, bisu dan pekak, tempat kediaman mereka adalah neraka jahanam."

 

Demikianlah akibat dan balasan bagi orang-orang yang bodoh yang tidak mau tahu ilmu agama ini. Karena memang demikianlah keadaan mereka di dunia. Dan manusia dibangkitkan sesuai dengan keadaan hatinya. Kebodohan juga salah satu sifat dari sifat-sifat penduduk neraka sebagaimana Allah menyatakan dalam surat Al-Araf: 179"Dan sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka punya hati tapi tidak digunakan untuk melihat dan mereka punya telinga tapi tapi tidak digunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."

 

Dalam ayat ini Allah Taala mengabarkan tentang sifat-sifat penduduk neraka jahanam yaitu orang-orang yang tidak memperoleh ilmu karena tidak mau menggunakan sarana-sarana untuk mendapatkan ilmu yaitu: akal, pendengaran, dan pengelihatan sehingga mereka menjadi orang-orang yang bodoh. Ini semua adalah menunjukkan tentang jeleknya kebodohan itu dan tercelanya, orang yang jahil di dunia dan di akherat.

 

Betapa bahayanya dan mengerikannya kalau kebodohan itu menimpa seseorang, dia akan menerima akibatnya yang membinasakannya. Padahal kalau kita melihat keadaan kaum muslimin sekarang ini yang ada di sekitar kita, sungguh mereka telah dilanda penyakit yang mengerikan ini. Kalau kita tahu sedikit saja tentang agama ini dan berusaha untuk mengamalkan maka kita akan tahu kenyataan yang menyedihkan, kebodohan telah merata baik secara individu, keluarga, masyarakat dan negara.

 

Namun mereka tidak merasa kalau mereka sedang dijangkit penyakit berbahaya yang akan membinasakan dirinya. Mereka tertawa dan terlena dengan kegemilangan dunia, tidak sadar kalau mereka di atas kesesatan bahkan di dalam kekafiran, kebidahan dan kemaksiatan. Namun karena kebodohan, mereka tidak merasa, bahkan merasa di atas kebenaran dan ketaatan.

 

Tatkala disampaikan Al-haq, mereka merasa resah dan tertuduh sesat. Kenyataan ini melanda mayoritas kaum muslim, orang mudanya, orang tuanya, rakyatnya dan pimpinannya. Sungguh menyedihkan kenyataan ini. Maka bagaimana kalau hal ini terus berlarut-larut dibiarkan ? Semoga tulisan singkat ini menjadikan peringatan bagi kita semua, sehingga kita semua tersadar untuk merubah keadaan yang berbahaya dan mengerikan ini untuk kemudian untuk meraih kehidupan yang diridloi oleh Allah Taala yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan yang abadi, di dunia maupun di akherat.

 

Dan keadaan seperti ini tidak akan ada jalan lain untuk merubahnya kecuali dengan bekal ilmu yang bermanfaat. Karena kebodohan adalah penyakit hati yang tidak ada obatnya kecuali dengan ilmu. Sebagaimana sabda Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam :" Tidak lain obatnya kebodohan selain bertanya" (HR. Ibnu Majjah, Ahmad dan yang lainnya).

 

Oleh karena inilah Allah menamakan Al-Quran sebagai obat bagi segala penyakit hati. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Yunus: 57" Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu nasehat dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman".

 

Karena inilah kedudukan ulama seperti dokter, yakni dokter hati. Maka butuhnya hati terhadap ilmu seperti butuhnya nafas terhadap udara bahkan lebih besar. Ilmu itu bagi hati laksana air bagi ikan, apabila hilang air maka matilah ikan. Jadi kedudukan ilmu bagi hati laksana cahaya bagi mata, laksana mendengarnya telinga terhadap ucapan lisan, apabila semua ini hilang maka hati itu laksana mata yang buta, telinga yang tuli dan lisan yang bisu. Wallahu taala alam

 (Sumber : http://www.saad01.blogspot.com/)


 

 

 

Last Updated on Wednesday, 13 May 2015 14:13
 
Copyright © 2015 SMA Insan Cendekia al muslim. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.