Home Hot News Tradisi ilmiah Islam

Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini119
mod_vvisit_counterKemarin218
mod_vvisit_counterMinggu ini829
mod_vvisit_counterBulan ini5195
mod_vvisit_counterAll214879
Tradisi ilmiah Islam PDF Print E-mail
Written by heri   
Saturday, 26 March 2011 10:47

Indonesia sebagai negara dengan mayoritas umat Islam belum merata memiliki tradisi ilmiah yang begitu kuat. Faktor inilah yang sedikit-banyak berperan dalam menjerat bangsa ini dalam membangun negeri. Bisa jadi karena spiritualitas yang kita dalam tradisi ilmiah Islam tidak bisa maksimal, maka masih banyak umat / masyarakat yang terpuruk terpinggirkan atau bahkan terlupakan.


Perbedaan kepentingan kecil kadang menimbulkan pemahaman berseberangan dengan golongan akademisi lainnya, yang malah menimbulkan konflik besar. Seharusnya musyawarah, berhujjah dan diskusi  intens yang elegan, berdiri sejajar dalam mencapai keharmonisan lebih layak dikedepankan.  Sehingga tradisi ukhuwah Islamiyah tetap terjaga dan terpelihara dalam  setiap permasalahan. Sekaligus mendidik anak bangsa/generasi muda agar terbiasa dengan forum-forum ilmiah dalam mencapai kemaslahatan. Salah satu syarat kepemimpinan adalah keunggulan dalam mengekspresikan isi kepala ke dalam bahasa lisan melalui diskusi atau melalui kemampuan berpolemik melalui tulisan.

 

Tradisi ilmiah Islam

 

Merujuk tradisi ilmiah Islam yang dikembangkan ulama-ulama para fuqaha telah berupaya merintis kegiatan ilmah Islam dengan penerjemahan karya-karya ilmiah klasik, diskusi keilmuan yang rutin, riset ilmiah, dan penyelenggaraan pendidikan Islam atau yang sesuai dengan Islam.

 

Jadi tradisi ilmiah Islam dengan dua aspek—fisik dan spiritual— harusnya mutlak menjadi pegangan para akademisi pendidikan Islam saat ini.  Dapat dilihat tradisi ilmiah Islam tidak kalah baik dengan tradisi barat saat ini, bahkan dapat dikatakan melebihi. Dari tradisi Islam itu, misalnya berabad-abad silam muncul karya ilmiah as-Syifa yang membahas semua cabang ilmu pengetahuan, logika (terdiri dari: Isagogi, topika, dialektika, qiyas, retorika, sofistika, puitika), matematika ( terdiri dari: aritmatika, geometri, musik, astonomi), fisika (terdiri dari: Bumi dan langit, generasi dan korupsi, mineralogi, botani, zoologi, psikologi, anatomi, kedokteran), dan metafisika (terdiri dari dua buku yang beridi 23 bidang ilmu). Karya ilmiah yang mungkin hanya ada dalam tradisi Islam.

 

Shahih, Dhaif dan Palsu, Menjaga orisinalitas Ilmiah

 

(Al Hujuraat [49]:6)

Hai orang2 yang beriman jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang menyebabkan kalian menyesal dengan perbuatan itu.”

 

Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata: “ Termasuk adab yang pantas diamalkan bagi orang yg berakal. Yakni apabila ada seorang yang fasiq mengabarkan suatu berita agar mengecek berita jangan begitu saja mengambilnya. Sebab yang demikian ini bisa menyebabkan bahaya besar dan menjatuhkan ke dalam dosa. Yang wajib dalam menyikapi berita seorang yang fasiq adalah meneliti dan mencari kejelasan.”

 

Sesuai dengan tradisi ilmiah Islam maka perlu ketelitian, kecerdasan dalam menerima sebuah tulisan, ucapan/berita dan informasi. Dalam ilmu hadist misalnya dalam menetapkan benar tidaknya sebuah hadist, maka ditetapkan kelompok ulama peneliti yang melakukan penyelidikan  kepada para perawi hadits.

 

Caranya dengan mengetahui ke-tsiqah-an atau kelemahan seorang rawi yg secara garis besar terbagi menjadi dua bagian:

Pertama: Mereka semasa dengan para perawi tersebut sehingga memungkinkan bagi mereka untuk melakukan pengetesan terhadap para perawi tersebut.

Kedua: apabila mereka tidak semasa dengan perawi yg ingin diketahui keadaan riwayat maka dengan cara sabrul ahaadiits . Jika perawi tersebut banyak meriwayatkan hadits dan jarang terjadi kesalahan dalam riwayat maka dia disifati sebagai seorang hafidz.

 

Jika memiliki sedikit kesalahan dibanding sekian banyak riwayat maka hadits berada di antara tingkatan Shahih hingga Hasan. Jika banyak terjadi kesalahan pada riwayat dan fatal kesalahan hanya saja tidak sampai kepada tingkat ditinggalkan hadits, maka yg demikian derajat Dha’if atau lemah.

 

Karya tulis

 

Tradisi ilmiah Islam di atas yang mewujud dalam bahasa 'metode ilmiah' , saat ini seharusnya sudah mewabah di semua level masyarakat Indonesia. Sehingga masyarakat tidak gampang terprovokasi  oleh proses 'devide et impera'  yang masih dianut.

 

Sungguhpun setiap jenjang pendidikan dari dasar hingga perguruan tinggi di Indonesia telah menuntut anak didiknya menghasilkan karya tulis. Namun perlu penjelasan hakikat pembuatan karya tulis tersebut, selain kemampuan kognitif dan psikomotor  yang dinilai. Ada aspek yang dicamkan yaitu keberanian mencantumkan nama serta biodata pada sebuah karya, adalah sebagai bentuk penyadaran bahwa menjadi muslim harus menjadi insan yang 'berani berbuat, berani bertanggungjawab." Bukan insan yang gemar "lempar batu sembunyi tangan."

 

Dengan analogi/qiyas dalam ilmu hadist di atas, dengan mencantumkan nama pada sebuah karya adalah alat untuk diteliti apakah karya tersebut Shahih, dhaif, palsu. orisinil, jiplakan atau saduran.  Kalau memang baik, bukan tidak mungkin karya tersebut akan menjadi sumber rujukan, inspirasi bagi penulis/peneliti/pemakai lainya, sehingga ilmu terus berkembang.

 

QS. Al Israa (17)

36.  “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.

 

Dengan Iman-Ilmu-Amal proses pendidikan akan menuntun para pembimbing untuk selalu cerdas dalam berfikir, berhati-hati dalam berucap/menulis dan istiqamah dalam bertindak. Insya Allah.

 

Wassalam.

 

 

Last Updated on Monday, 28 March 2011 00:31
 
Copyright © 2014 SMA Insan Cendekia al muslim. All Rights Reserved.
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.